Pertama, gw kudu bilang dulu nih, am not a kind of movie
freak, sebagian temen gw ada yang memang bener-bener hobi nonton film dan
harus-selalu-kudu-wajib kalau ada film yang baru rilis harus nonton di bioskop.
Nah, meskipun bukan maniak nonton film, tetep lho gw punya film-film favorit
yang entah berapa kali ditonton pun tetap menyenangkan dan nggak membosankan. Sebagian
besar dari film-film favorit gw itu bergenre komedi-romantis, kenapa? (1)
Biasanya happy ending. Makkk, hidup ini udah susah, kalau nggak pait, ya pait
banget, makanya gw memilih untuk nonton film yang bikin hati hangat dan
berbuna-bunga. Kan seneng tuh kalau happy ending (2) Komedi romantis cenderung
nggak berat. Nggak berat di sini maksudnya lo nggak butuh pemahaman dan
kecerdasan tinggi buat ngerti film ini. Cocok buat gw! Ha! (3) Latar film-film
komedi romantis pun biasanya kece-kece dan mendukung jalan cerita film
tersebut.
Nah, ngomongin latar dari film-film komedi romantis, Inggris
adalah salah satu negara latar favorit gw. Banyak banget film-film kece favorit
gw yang nunjukkin betapa wajibnya Inggris dikunjungi buat romantis-romantisan
*tapi sama siapa?!* *tetep curhat*, ini dia yang namanya from movie to fantasy. Kebanyakan nonton komedi-romantis dan gw pun
jadi punya banyak hasidu alias hayalan si dungu. Huvft! Kalau buat gw, tiga
besar di bawah ini adalah film komedi romantis dari Inggris yang sukses bikin
delusional.
Notting
Hill
It’s amazing how you, can speak right
to my heart
Without saying a word, you can light
up the daaarkkk
Kalimat di atas nggak lain nggak bukan adala cuplikan When
You Say Nothing at All-Ronan Keating yang rasa-rasanya udah jadi lagu wajib
ketika karaokean atau setiap kita mengenang film Notting Hill *kemudian
cewek-cewek mengangguk syahdu tanda setuju*. Entah kenapa, gw ini termasuk
golongan orang yang agak terjebak di masa lalu. Film-film komedi-romantis
paling hits datang silih berganti, tapi Notting Hill tetap di hati.
Pertama liat film ini sekitar awal
2000-an saat ada stasiun tv swasta yang menayangkan di televisi. Selain
terkagum-kagum dengan kegantengan, akting dan logat British Hugh Grant, gw pun
terpesona dengan kecantikan Inggris yang menjadi latar film tersebut (tentunya
ditambah kecantikan Julia Roberts. CANTIK BANGET SIH DESE?!).Sepanjang film, gw
terus-terusan bilang ke diri sendiri kalau suatu hari nanti gw pasti akan
sampai di Inggris. Gw pasti akan pergi ke taman tempat yang dipanjat pagarnya
oleh Hugh Grant dan Julia Roberts gw pasti akan
pergi ke distrik Notting Hill dan mengunjungi toko buku fenomenal yang
ada di film tersebut. Pasti.
Adegan favorit? Pas akhir film di mana ada konfrensi pers,
kemudian Anna (Mbak Jul) bilang dia mau pergi dari Inggris dan sejurus kemudian
William (Hugh Grant) angkat tangan seraya bilang ‘What if, Mr. Thacker realized
that he had been a daft prick and got down on his knees and begged you to
reconsider if you would..indeed..reconsider.’ Kemudian ada hening sejenak
sampai Anna pun bilang ‘Yes, I believe I would.’ WHOAAAA!!!! *tabur-tabur
konfeti*
Love
actually
Yoooo…pokonya yang satu ini wajib tonton menjelang natal.
Nggak mau tahu, pokonya kalau udah masuk bulan Desember, aka nada hari di mana
gw nnton film ini. Nggak tahu kenapa pokonya auranya pas aja. Tetep lho masih
Hugh Grant *I like him a lot!!!!* Suka banget banget banget banget banget nget
nget nget!!!! Film yang meceritakan kisah cinta masing-masing tokoh. Ada yang
sedih ada yang bahagia. Ada cinta monyet bocah yang masih SD sampe cinta terlarangnya
seorang bawahan sama bosnya yang udah nikah sampai cerita heroiknya perdana
mentri Inggris (Hugh Grant) yang (ceritanya) menentang
Amerika…hihihihihihi.
Kalau diminta milih bagian favorit dari film ini susah
bokkkk, semuanya tuh luar biasa banget. Tapi dari semuanya, hal yang justru
paling gw suka adalah narasi pembuka yang dibawain Hugh Grant di awal film
sambil menayangkan bandara Heathrow yang bunyinya:
‘Whenever I get gloomy with the state of the world, I think
about the arrivals gate at Heathrow Airport. General opinion’s starting to make
out that we live in a world of hatred and greed, but I don’t see that. It seems
to me that love is everywhere. Often it’s not particularly dignified or
newsworthy, but it’s always there –fathers and sons, mothers and daughters,
husbands and wives, boyfriends, girlfriends, old friends. When the plane hits
the Twin Tower, as far as I know none of the phone calls from the people on
board were messages of hate or revenge- they were all messages of love. I’ve got
sneaky feeling you’ll find that love actually is all around.’ *tisu mana tisuuuu?!?!*
Bridget
Jones’s Diary
Untuk film yang satu ini, karakternya Hugh Grant luar biasa
nyebelin *tapi tetep suka. Lha, priye?!* ya udahlahya, kalau ngeliat tokoh
Bridget itu pasti cewek-cewek bawaannya pengen nyama-nyamain, ‘Duh Bridget tuh
gw banget, hopelessly romantic, gendut (sebenrnya ga gendut, tapi semok.
Hyuk!), konyol, idupnya gitu-gitu aja. Bedanya cuma satu, dia dideketin dua
orang cowok ganteng.’ Iya, bedanya cuma satu, tapi signifikan. Sebenernya
agak-agak kesel juga setiap liat karakter Collin Firth di sini, ih kok dingin
banget sih *cekek*, tapi Collin Firth effect ini luar biasa. Luar biasa sukses
bikin cewek-cewek semakin delusional gara-gara salah satu dialog dari Colin
Firth yang bilang ke Bridget ‘I like you very much just as you are.’ *tepuk
tangan* tapi abis itu Collin Firth balik badan, naik ke tangga, pergi ke meetingnya lagi. *kzl deh!*
Tapi diluar dialog itu, adegan favorit gw ada di film yang ke
dua, Edge of Reason, yaitu adegan di mana Collin Firth dan Hugh Grant kelahi.
Dan adegan kelahinya bukan yang gagah ala-ala cowok tinju-tinjuan untuk
mertahanin cewek yang disuka, tapi tarik-tarikan sambil nyebur ke kolam. Sungguh
luar biasa :))).
Setiap gw
nonton film Inggris, gw akan membagi konsentrasi gw, yaitu untuk ngikutin jalan
cerita dan untuk fokus sama aksen British para pemainnya *mimisan*. Nah berawal dari kesengsem di
fim, gw semakin ngayal buat bisa jalan-jalan ke Inggris, terutamanya sih nelusurin
Portobello Road di wilayah Notting Hill,
mana tahu tiba-tiba ngeliat Hugh Grant lewat, kan bisa langsung gw geret nyari
penghulu *hasidu level 736449*. Terus nelusurin jalanan London dengan jalan
kaki. Iya, jalan kaki aja. Main-main di taman, keluar masuk second hand shop, sampai ngeteh di kafe. Kurang lebih, foto di bawah bisa ngasih gambaran apa yang mau gw kerjain di Inggris:
![]() |
| cocok kan? yes! we meant to be together :') |
Nggak apa-apa sekarang ngayal, toh kata Pablo Picaso, ‘Everything you can imagine is real.’ :’)
(160210234728)nothing_hill_1.jpg)